I. PENDAHULUAN

Kata desain menunjukkan adanya suatu proses dan suatu hasil. Sebagai suatu proses, desain pesan sengaja dilakukan mulai dari analisis masalah pembelajaran hingga pemecahan masalah yang dirumuskan dalam bentuk produk. Produk yang dihasilkan dapat dalam bentuk prototipe, naskah atau story board, dan sebagainya. Martinis (2007) menyatakan bahwa guru harus mampu menyajikan informasi yang menarik, dan asing (belum diketahui) bagi siswa-siswi. Sesuatu informasi yang disampaikan dengan teknik yang baru, dengan kemasan yang bagus dan didukung oleh alat-alat berupa sarana atau media yang belum dikenal oleh siswa sebelumnya, sehingga menarik perhatian bagi mereka untuk belajar, misalnya; guru menyampaikan informasi atau pesan pembelajaran dengan alat yang belum mereka kenal sebelumnya. Desain Pesan meliputi perencanaan untuk merekayasa bentuk fisik dari pesan atau informasi. Hal tersebut mencakup prinsip-prinsip perhatian, persepsi, dan daya serap yang mengatur penjabaran bentuk fisik dari pesan atau informasi, agar terjadi komunikasi antara pengirim dan penerima dalam bentuk partisipasi aktif, membutuhkan feedback (Umpan balik) dan juga perulangan. Fleming dan Levie (dalam Seel&Richie,1994) membatasi pesan pada pola-pola isyarat atau simbol yang memodifikasi perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor. Desain pesan berurusan dengan tingkat paling mikro melalui unit-unit kecil seperti bahan visual, urutan, halaman dan layar secara terpisah.
Karakteristik lain dari desain pesan adalah bahwa desain pesan harus bersifat spesifik baik terhadap medianya maupun tugas belajarnya. Hal ini mengandung arti bahwa prinsip-prinsip desain pesan akan berbeda tergantung apakah medianya bersifat statis, dinamis atau kombinasi dari keduanya, misalnya suatu potret, film, atau grafik komputer. Juga apakah tugas belajarnya berupa pembentukan konsep atau sikap, pengembangan keterampilan atau strategi belajar, ataukah menghafalkan informasi verbal.

Dengan teori dan prinsip-prinsip belajar, guru akan memiliki dan dapat mengembangkan sikap yang diperlukan untuk menunjang peningkatan belajar siswa, yang dituangkan pada design pesan pembelajaran. Dalam makalah ini akan diuraikan tiga prinsip yang merupakan bagian terakhir dari dua makalah sebelumnya, yaitu: prinsip partipasi aktif siswa; prinsip umpan balik; dan prinsip pengulangan.

II. PRINSIP PARTISIPASI AKTIF SISWA

Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran, guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain. Partisipasi aktif siswa dalam belajar merupakan persoalan penting dan mendasar yang harus dipahami, disadari, dan dikembangkan oleh setiap guru di dalam proses pembelajaran. Hal ini berarti bahwa partisipasi aktif ini harus dapat diterapkan oleh siswa dalam setiap bentuk kegiatan belajar. Keaktifan belajar ditandai oleh adanya keterlibatan secara optimal, baik intelektual, emosional, dan fisik juga dibutuhkan.
Pandangan mendasar yang perlu menjadi kerangka berfikir setiap guru adalah bahwa pada prinsipnya siswa adalah makhluk yang aktif. Individu merupakan manusia belajar yang aktif dan selalu ingin tahu. Daya keaktifan yang dimiliki siswa secara kodrati itu akan berkembang kearah yang positif bilamana lingkungannya memberikan ruang yang baik untuk tumbuh suburnya keaktifan tersebut. Keadaan ini menyebabkan setiap guru perlu menggali potensi-potensi keberagaman siswa melalui keaktifan yang mereka aktualisasikan dan selanjutnya mengarahkan aktifitas mereka kearah tujuan yang positif atau tujuan pembelajaran. Hal ini pula yang mendasari pemikiran bahwa kegiatan pembelajaran harus dapat memberikan dan mendorong seluas-luasnya partisipasi aktif siswa. Ketidaktepatan pemilihan pendekatan pembelajaran sangat memungkinkan partisipasi aktif siswa menjadi tidak subur, bahkan mungkin justru menjadi kehilangan keaktifannya. Contoh penerapan prinsip partisipasi Aktif dalam Pembelajaran Kemampuan Guru Kegiatan Pembelajaran
Guru merancang/ mendesain pesan pembelajaran dan mengelola KBM yang mendorong siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran.
Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran , Guru menugaskan siswa dengan kegiatan yang beragam , misalnya: · Percobaan · Diskusi kelompok · Memecahkan masalah · Mencari informasi · Menulis laporan/cerita/puisi · Berkunjung keluar kelas
Bambang Warsita (2008) menyatakan bahwa Penerapan prinsip partisipasi aktif dalam rancangan bahan ajar dan aktifitas dari guru didalam proses pembelajaran adalah dengan cara:
1. Memberi kesempatan, peluang seluas-luasnya kepada siswa untuk berkreativitas dalam proses belajarnya.
2. Memberi kesempatan melakukan pengamatan, penyelidikan atau inkuiri dan eksperimen.
3. Memberi tugas individual atau kelompok melalui kontrol guru.
4. Memberikan pujian verbal dan non verbal terhadap siswa yang memberikan respon terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
5. Menggunakan multi metode dan multi media di dalam pembelajaran.
Aunurrah, (2009) menambahkan bahwa ada cara-cara lain yang dapat digunakan sebagai prinsip partisipasi aktif siswa dalam merancang bahan ajar yaitu :
1. Memberikan pertanyaan-pertanyaan ketika proses pembelajaran berlangsung
4 Presentasi Makalah “Prinsip Partisipasi Aktif Siswa, Umpan Balik dan Perulangan”
Mata Kuliah Desain Pesan Pembelajaran, MTP UNJA ( Juli, 2010)
Oleh : Kukuh Sila Utama & Muaffah.
2. Mengerjakan latihan pada setiap akhir suatu bahasan
3. Membuat percobaan dan memikirkan atas hipotesis yang diajukan
4. Membentuk kelompok belajar
5. Menerapkan pembelajaran kontekstual, kooperatif, dan kolaboratif
Bentuk bahan ajar yang dapat digunakan untuk mengembangkan partisipasi aktif siswa bisa dengan Modul maupun CD Pembelajaran untuk menampilkan audio, visual maupun audio visual.

III. PRINSIP UMPAN BALIK

Feedback (Umpan Balik) merupakan suatu bagian penting dalam kegiatan belajar-mengajar. Umpan balik adalah informasi yang diberikan kepada siswa mengenai keberhasilan atau kekurangan dalam belajarnya. Umpan balik sangat mempengaruhi motivasi belajar siswa. Hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. Salah satu prinsip penggunaan umpan balik adalah: diberikan sesegera mungkin oleh guru kepada siswa. Jangan pernah menunda pemberian umpan balik! Untuk memberikan umpan balik, guru dapat melakukannya baik secara verbal maupun secara nonverbal. Umpan balik dapat bersifat reward misalnya, untuk proses pembelajaran maupun terhadap hasil belajar yang mereka lakukan atau capai dengan baik. Bisa pula berupa kritikan yang bersifat membangun motivasi belajar dan perbaikan proses atau pencapaian hasil belajar tadi. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar angka.
Contoh Pelaksanaan prinsip umpan balik dalam Pembelajaran yang bersifat Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan adalah :

- Kemampuan Guru Kegiatan Pembelajaran
Merancang Bahan ajar, Melaksanakan dan Menilai KBM serta kemajuan belajar siswa secara terus menerus.
· Guru memantau kerja siswa · Guru memberikan umpan balik
Penerapan Prinsip Umpan balik dalam pembelajaran dan merancang bahan ajar adalah dengan memberikan tugas, latihan soal, PR, ulangan harian, ataupun penguasaan suatu keterampilan kepada siswa. Jenis soal atau tugas yang ditulis dalam bahan ajar tersebut adalah soal yang menyangkut materi pembelajaran yang muatannya diharapkan mudah, menarik dan memerlukan logika berfikir bagi siswa, Siswa tentunya sangat termotivasi untuk menyelesaikan tugasnya dan kemudian berkeinginan segera mendapatkan hasil pekerjaannya. Guru kemudian memberitahukan apakah tugas yang dikerjakan oleh siswa tersebut sudah benar. Guru selanjutnya mengembalikan pekerjaan siswa yang telah dikoreksi, dinilai, atau diberi komentar atau catatan oleh guru. Sangat disayangkan bila guru suka menunda-nunda pemberian umpan balik terhadap pembelajaran siswa, terutama dalam kaitan koreksi pada kertas kerja siswa. Banyak hal yang dapat membuat guru terlambat atau menunda pemberian umpan balik dalam bentuk ini. Ironisnya, seringkali disebabkan karena rasa malas yang ada dalam diri guru. Penundaan pemberian umpan balik dalam bentuk koreksi kertas hasil kerja siswa sangat merugikan dan merusak motivasi belajar siswa. Guru yang malas mengoreksi pekerjaan siswa seperti PR, tugas, ulangan harian, lembar kerja, dll, membuat siswa menunggu-nunggu. Tidak jarang siswa menjadi kesal terhadap guru, bahkan harus menagih kepada guru tentang kertas hasil kerja mereka. Akhirnya, beberapa siswa cenderung akan kehilangan selera untuk melihat nilai yang mereka peroleh dari hasil pekerjaan mereka itu. Guru yang baik dan profesional seharusnya tidak melakukan penundaan pemberian umpan balik dalam bentuk koreksian pekerjaan siswa. Hasil koreksian tersebut sebenarnya sangat bermanfaat, tidak hanya buat siswa, tapi juga bagi guru. Analisis kelemahan dan kekuatan sebuah pembelajaran dapat dilakukan berdasarkan hasil pekerjaan siswa. Selanjutnya, hasil analisis ini dapat dijadikan dasar pijakan untuk perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran berikutnya. Pembelajaran yang berdasarkan analisis semacam ini akan berbuah pembelajaran yang efektif, efisien, dan menyenangkan bagi siswa dan guru.

Penundaan koreksi dan pengembalian kertas hasil pekerjaan siswa yang terlalu lama juga menyebabkan guru akan kesulitan memberikan review terhadap materi penting belum dikuasai siswa dengan baik. Karena lamanya selang waktu koreksi dan pengembalian, materi yang tak terkuasai dengan baik oleh siswa itu jadi begitu jauh terlewat. Jika diulang tentu akan mengganggu “smoothness”-nya pembelajaran. Kegiatan belajar mengajar jadi terdistraksi oleh ketidakruntutan dan bolak-baliknya konten pembelajaran. Lagi-lagi ini akan merusak motivasi belajar siswa. Agar Umpan balik menjadi lebih baik, ada tiga hal yang mesti dilakukan, yaitu : (1) Fokuslah pada tujuan pembelajaran (2) Berikan umpan balik ini sesering mungkin, dan (3) Berikan penjelasan secara lebih mendalam.

IV. PRINSIP PERULANGAN

Mengajar pada hakikatnya adalah membentuk suatu kebiasaan, sehingga melalui pengulangan-pengulangan siswa akan terbiasa melakukan sesuatu dengan baik sesuai dengan perilaku yang diharapkan. Agar kebiasaan itu menjadi efektif, maka seseorang terlebih dahulu harus memiliki pengetahuan berkenaan dengan sesuatu yang akan dilakukan. Disamping itu akan sangat baik bilamana ia memahami alasan mengapa sesuatu itu penting untuk dilakukan. Memiliki pengetahuan dan alasan tentang sesuatu hal yang akan dilakukan dapat terlaksana dengan baik bilamana individu memiliki perangkat keterampilan bagaimana melakukannya. Suatu tindakan tertentu dapat tumbuh subur menjadi kebiasaan bilamana didukung dengan motivasi dan keinginan yang kuat untuk melaksanakannya terus menerus. Karena itu di dalam kegiatan pembelajaran, setiap guru disamping sangat penting memberikan pengetahuan dan alasan untuk melakukan sesuatu, tentu harus diiringi dengan cara melakukannya dengan baik. Kedua hal ini akan sangat efektif bilamana siswa memiliki keinginan atau dorongan untuk melakukannya menjadi suatu kebiasaan atau melakukan perulangan terhadap materi yang telah diajarkan. Kebiasaan dengan melakukan perulangan, dalam penyampaian materi pembelajaran merupakan prinsip perulangan.

Prinsip perulangan ini pada dasarnya adalah tentang mengulang-ulang penyajian informasi atau pesan pembelajaran. Proses penguasaan materi pembelajaran atau ketrampilan tertentu memerlukan perulangan. Tidak adanya perulangan akan mengakibatkan informasi atau pesan pembelajaran tidak bertahan lama dalam ingatan, dan informasi tersebut mudah dilupakan. Penerapan prinsip perulangan ini dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan cara yang sama dan dengan media yang sama. Misalnya dalam rancangan bahan ajar seorang guru telah mempersiapkan/ meminta peserta didik untuk memiliki media kaset. Media kaset yang berisi materi atau pun bahan latihan ini diputar berulang-ulang. Hal ini tentunya akan membuat pembelajaran semakin bermakna, dengan cara lain siswa diminta untuk membaca buku tentang materi topik bahasan tertentu selama dua atau tiga kali, setelah itu guru akan meminta siswa menjelaskan apa yang telah dikuasainya. Langkah-langkah Perulangan ini juga dapat dilakukan dengan cara dan media yang berbeda pula. Misalnya setelah mendengar metode ceramah, siswa diminta untuk membaca buku dengan topik yang sama dan sebagainya. Penerapan prinsip – prinsip pengulangan bagi guru dalam merancang bahan ajar adalah dengan cara :
1. Memilah pembelajaran yang berisi pesan yang menbutuhkan pengulangan.
2. Merancang kegiatan-kegiatan pengulangan.
3. Mengembalikan soal-soal latihan.
4. Memgimplementasikan kegiatan-kegiatan pengulangan yang bervariasi.
Sedangkan pada siswa sangat dituntut untuk memiliki kesadaran yang mendalam agar bersedia melakukan pengulangan latihan-latihan baik yang ditugaskan oleh guru maupun atas inisiatif dan dorongan diri sendiri.

V. APLIKASI KETIGA PRINSIP DESAIN PESAN PEMBELAJARAN DALAM PAKEM

PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan) memungkinkan pebelajar memperoleh kemampuan berdasarkan teori Gagne yaitu ketrampilan intelektual, informasi verbal, strategi kognitif, ketrampilan motorik, dan sikap.

No Jenis Kemampuan Konsep PAKEM Prinsip Desain Pesan Aplikasi
1
Ketrampilan intelektual
Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah
Prinsip pengulangan, dan partisipasi aktif siswa
Secara visual menyajikan benda, lambang, gambar, suara, warna,demontrasi, pemberian contoh-contoh. Petunjuk-petunjuk dalam komunikasi verbal
2
Strategi kognitif
Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara lisan atau tulisan.
Prinsip perulangan Dan Prinsip partisipasi aktif siswa
Penyajian masalah-masalah baru
3
Informasi verbal
pertanyaan apa yang dapat membangkitkan tiap elemen desain. pertanyaan klarifikasi apa yang digunakan untuk menengetahui cara berpikir dan aktivitas belajar siswa.
Prinsip perulangan dan Prinsip Umpan balik
Penyajian komunikasi verbal, gambar, atau petunjuk-petunjuk

VI. KESIMPULAN

Desain Pesan meliputi perencanaan untuk merekayasa bentuk fisik dari pesan atau informasi. Hal tersebut mencakup prinsip-prinsip perhatian, persepsi, dan daya serap yang mengatur penjabaran bentuk fisik dari pesan atau informasi, agar terjadi komunikasi antara pengirim dan penerima dalam bentuk partisipasi aktif, membutuhkan feedback (Umpan balik) dan juga perulangan.
Dengan teori dan prinsip-prinsip belajar, guru akan memiliki dan dapat mengembangkan sikap yang diperlukan untuk menunjang peningkatan belajar siswa, yang dituangkan pada design pesan pembelajaran ( bahan ajar).

Ketrampilan sikap
bagaimana siswa melakukan refleksi dalam menyelesaikan tugas mereka, apakah siswa ingat tentang (feeling, images, and language of their thought), apa sikap, proses, dan konsep yang akan dibawa siswa setelah keluar kelas. Guru mengaitkan KBM dengan pengalaman siswa sehari-hari.
Prinsip perulangan Dan Prinsip partisipasi aktif siswa
Penyajian yang konsisten model yang dihargai, demonstrasi model tingkah laku yang diharapkan, demonstrasi tentang kebahagiaan atau kepuasan yang dicapainya.
5
Ketrampilan Motorik
bagaimana siswa mereka dan memamerkan kreasi mereka melalui demonstrasi cara berpikir mereka dalam menyelesaikan dan atau memenuhi tugas
Prinsip perulangan Dan Prinsip partisipasi aktif siswa
Latihan-latihan kontinu, mengulangi gerakan-gerakan untuk ketepatan, kecepatan dan kualitas ketrampilan tertentu.

DAFTAR PUSTAKA

Aunurrahman, 2009, Belajar dan Pembelajaran, Bandung: Alfabeta Bambang Warsita, 2008,Teknologi Pembelajaran: Landasan & Aplikasinya, PT. Rineka Cipta. Dimyati dan Mujiono, 2006, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: PT. Rineka Cipta. Flaming, M dan Levie. 1991, Instructional Message Design Principle from the Behavioral Science, New Jersey Englewood Cliffs : Educational Teknologi Publications. John W, Santrock,2008, Psikologi Pendidikan, Jakarta: kencana Predana Media Group. http://kukuhsilautama.wordpress.com/prinsip partisipasi aktif siswa, prinsip umpan balik dan prinsip perulangan/html.