“ AUSTRALIAN JOURNAL OF EDUCATIONAL TECHNOLOGY, 2008, 24 (1), 108-122 “

This  journal was downloaded from : http://www.ascilite.org.au/ajet/ajet.html

Translated by   : http://kukuhsilautama.wordpress.com

PENGALAMAN MAHASISWA TAHUN PERTAMA DENGAN TEKNOLOGI:
APAKAH MEREKA BENAR-BENAR ASLI PENGGUNA DIGITAL?

Gregor E. Kennedy, Terry S. Judd, Anna Churchward, Kathleen Gray
University of Melbourne, Kerri-Lee Krause
Griffith University

Makalah ini memberitakan tentang sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2006 terhadap  lebih dari 2.000 mahasiswa yang masuk pada tahun pertama di Universitas Australia. Para mahasiswa tersebut ditanya mengenai akses penggunaan dan pilihan mereka terhadap berbagai teknologi mapan dan yang baru muncul serta peralatan yang berbasis teknologi.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak mahasiswa tahun pertama sangat cerdas atau tidak gagap teknologi.
Namun, ketika seseorang  berpindah kepada teknologi dan alat-alat yang sudah tertanam saat ini (misalnya komputer, ponsel, email), maka pola-pola akses dan penggunaan berbagai teknologi lain menunjukkan keragaman. Temuan ini dibahas berdasarkan sudut pandang pernyataan  Prensky (2001a)  tentang ‘Pengguna asli Digital’ dan implikasinya dalam menggunakan teknologi untuk mendukung  pengajaran dan pembelajaran di pendidikan tinggi.

Pendahuluan

Pada tahun 2001 Marc Prensky menerbitkan makalah bersama pada angkatan mahasiswa baru: dengan judul  “pengguna asli digital”.   Dorongan dasar dari  argumen Prensky adalah bahwa kelompok mahasiswa baru yang masuk ke beberapa universitas pada dasarnya berbeda dari yang pendidik pernah lihat sebelumnya. Pengguna asli digital  telah “menghabiskan seluruh hidup mereka dikelilingi oleh dan menggunakan komputer, video game, pemutar musik digital, kamera video , ponsel, dan semua mainan dan alat-alat lain pada era digital “(Prensky, 2001a, hal 1). Prensky menyatakan bahwa budaya dan lingkungan digital  yang telah tumbuh telah mengubah cara mereka berpikir: “Sekarang jelas bahwa sebagai akibat dari lingkungan  dan muatan   interaksi mereka dengan hal tersebut, saat ini siswa berpikir dan memproses informasi secara fundamental berbeda dari para pendahulu mereka. “(hal. 1).  Lebih jauh lagi, dalam apa yang dapat dianggap sebagai tuntutan yang berani, Prensky menyarankan bahwa  sangat mungkin otak mahasiswa kita  telah berubah secara fisik – dan berbeda dengan kita – hal ini  adalah sebagai akibat dari bagaimana mereka dibesarkan. “(hal. 1).   Makalah ini mengambil tuntutan pertama ini  sebagai titik awal. Meskipun tidak  mengarahkan tentang  perbedaan fundamental dalam pemrosesan informasi atau neuroplastisitas, makalah ini mempertanyakan asumsi budaya dan lingkungan yang mendukung gagasan tentang  pengguna asli  Digital.

Sejak Prensky (2001a, 200b) membuat istilah tersebut, cukup banyak diskusi di seputaran pendidikan telah berpusat pada pengguna asli Digital  (juga disebut sebagai  Generasi Jaringan/ internet’, Generasi Y ‘dan’ Generasi Millenium’).   Argumen telah berubah sedikit dari yang semula diajukan oleh Prensky: budaya digital di mana pengguna asli digital yang  telah tumbuh telah mempengaruhi pilihan dan keahlian mereka dalam sejumlah bidang kunci yang terkait dengan pendidikan (lihat Oblinger, 2003, 2006; Gros, 2003; Gibbons, 2007). Sikap Prensky ini juga tetap tidak berubah selama periode ini, ia menyatakan dalam sebuah artikel terbaru”… Mahasiswa kita sedang ramai-ramainya menuntut  teknologi (baru) ini untuk dapat digunakan sebagai bagian dari pendidikan mereka, sebagian karena teknologi tersebut adalah sesuatu yang siswa harus kuasai dan gunakan dalam kehidupan mereka, dan sebagian lagi karena mereka baru menyadari betapa bergunanya jika mereka bisa. ” (Prensky, 2007; hal 41).

Pengguna asli digital dapat dikatakan lebih suka menerima informasi dengan lebih cepat; menjadi mahir dalam memproses informasi dengan cepat; lebih suka akses multi-tasking dan non-linear terhadap informasi; memiliki toleransi yang rendah untuk kuliah; lebih aktif dari pada pasif  dalam pembelajaran, dan sangat bergantung pada teknologi komunikasi untuk mengakses informasi dan untuk melaksanakan interaksi sosial dan profesional (Prensky 2001a, 2001b; Oblinger, 2003; Gros, 2003; Frand, 2000).

Prensky (2001a) tidak hanya menunjuk ketertarikan pada teknologi alami yang  seharusnya dan Pengguna asli digital yang melek informasi, tapi  dia juga mengungkapkan keprihatinan pada kekurangan melek teknologi di kalangan pendidik. Dia memberi  label pada dosen di pendidikan tinggi dengan istilah Imigran Digital ‘; orang asing di tanah digital  dari Generasi jaringan/internet, dan menganggap bahwa perbedaan antara Pengguna Asli dan para imigran sebagai “suatu masalah terbesar yang dihadapi pendidikan hari ini “(hal 2). Pilihan dan keahlian yang mencirikan Pengguna asli digital dikatakan tidak sesuai dengan ajaran saat praktek bagi imigran.  Prensky dan komentator lainnya (Oblinger, 2003; Frand, 2000) menyatakan bahwa karena perbedaan ini, pendidik perlu menyesuaikan model pengajaran mereka  supaya sesuai dengan tipe pelajar/ mahasiswa baru yang  mereka hadapi dalam angkatan mahasiswa baru ini. Tidak mengherankan, argumen ini telah memperoleh perhatian luas di kalangan pendidikan (misalnya Doherty, 2005; Rodley, 2005).
Namun, dasar pikiran yang mendasari argumen ini menjamin  pemeriksaan lebih dekat sebelum dosen dari universitas mulai merombak kurikulum dan praktek belajar mengajar. Argumen ini didasarkan pada asumsi umum bahwa siswa yang masuk ke perguruan tinggi telah memiliki kemampuan umum dan kemampuan digitan yang seragam. Diasumsikan bahwa pengalaman teknologi siswa lebih kurang sama dan bahwa sebagian besar, namun tidak semua, mahasiswa universitas telah menjadi pengguna asli digital. Bukan hanya karena dianggap bahwa mahasiswa ini akan memiliki pengalaman universal, tetapi mereka juga akan memiliki pengetahuan dan pemahaman yang maju tentang teknologi informasi dan komunikasi (ICT). Seperti risiko generalisasi keterampilan, pengetahuan dan pilihan yang berbasis teknologi yang dipandang lebih kompleks, di antara populasi siswa.

Pemahaman tentang pengalaman teknologi siswa yang berdasarkan bukti- merupakan suatu yang sangat penting dalam memberitahukan kebijakan pendidikan tinggi dan praktek. Pemahaman menyeluruh terhadap pengalaman teknologi mahasiswa akan memiliki implikasi yang jelas untuk bidang-bidang tertentu  seperti akses mahasiswa, pemerataan, dan transisi. Pengambilan keputusan kelembagaan yang terkait dengan manajemen dan  administrasi informasi dan teknologi komunikasi — dukungan infrastruktur teknologi, investasi sumber daya, mahasiswa dan staf pendukung — juga akan memperoleh manfaat dari bukti-bukti mengenai ‘pengalaman yang sudah ada pada mahasiswa tentang teknologi. Akhirnya, penyelidikan terhadap pengalaman teknologi siswa saat ini akan mempunyai implikasi terhadap cara-cara di mana teknologi mungkin bisa dimanfaatkan dengan cara-cara tertentu untuk meningkatkan belajar dan mengajar.

Latar belakang studi ini

Mungkin mengejutkan, beberapa penelitian empiris telah diterbitkan pada penggunaan teknologi bagi mahasiswa ‘umum dalam konteks pendidikan tinggi Australia. Kita tahu bahwa remaja dan dewasa muda di Australia adalah pemilik tinggi dan pengguna teknologi termasuk komputer, internet dan telepon genggam (NetRatings, 2005; Australia
Psychological Society, 2004).   Sebagai contoh, Biro Statistik Australia melaporkan bahwa pada tahun 2003, 99% dari anak usia 12-14 tahun menggunakan komputer di rumah atau di sekolah dan 88% mengakses Internet. Dalam konteks pendidikan tinggi, Krause, Hartley, James dan McInnes (2005) melaporkan bahwa mahasiswa tahun pertama menghabiskan 4,2 jam per minggu pada web untuk belajar dan penelitian dan hanya 3% mengatakan bahwa mereka tidak pernah menggunakan web untuk tujuan belajar. Dalam survei yang terbaru terhadap  mahasiswa teknik dan bisnis tahun pertama, Oliver dan Goerke (2007) menemukan bahwa proporsi tinggi dari siswa (lebih dari 90%) menggunakan sumber daya online untuk tujuan studi. Mereka juga mencatat pertumbuhan siswa pemakaian umum instant messaging (pesan singkat), blog dan podcasting antara 2005 dan 2007. Namun, mereka juga menemukan bahwa mayoritas siswa jarang atau tidak pernah menggunakan teknologi ini untuk studi.

Penelitian yang lebih komprehensif telah dilakukan dalam konteks pendidikan tinggi Amerika. Pada tahun 2002, Pew Internet dan Proyek American Life mendokumentasikan tingginya perbandingan mahasiswa AS yang menggunakan Internet untuk studi mereka (Jones & Madden, 2002). Studi ini merupakan salah satu yang pertama mendokumentasikan seberapa tinggi mahasiswa menggunakan internet untuk mengakses informasi dan menggunakan email berbasis web dan pesan instan untuk berkomunikasi baik dengan sesama staf dan mahasiswa. Baru-baru ini, Kvavik (2005) meneliti 4.374 mahasiswa baru dan mahasiswa senior dan menemukan bahwa mereka  pengguna email yang sering , pesan instant, pemrosesan kata, dan Internet browsing dan penggunaan ini bervariasi oleh mahasiswa jurusan. Tingkat penggunaan dan keterampilan yang tinggi tidak perlu diterjemahkan ke dalam preferensi/ pilihab untuk peningkatan penggunaan teknologi di kelas. Sementara 31% dari mahasiswa mengindikasikan bahwa mereka ingin menggunakan  teknologi secara luas didalam kelas, 26% siswa mengatakan mereka akan lebih suka dengan kelas yang ‘terbatas’ atau ‘tidak’ berteknologi.  Dua faktor yang berdampak pada pilihan/preferensi siswa adalah merupakan pengalaman yang positif dengan teknologi di dalam kelas dan penggunaan dan keterampilan sebelumnya dengan teknologi pada umumnya.

Dalam tindak lanjut penelitian ini, Caruso dan Kvavik (2005) menghadirkan  laporan yang luas dan komprehensif tentang pengalaman berteknologi lebih dari 18.000 mahasiswa universitas. Sulit untuk menilai terhadap temuan rinci seperti studi besar di makalah seperti ini, tetapi jelas dari riset mereka bahwa ICT menembus segala aspek kehidupan mahasiswa. Namun, mereka juga menemukan bahwa mahasiswa merasa nyaman dengan seperangkat inti teknologi tetapi kurang nyaman dengan teknologi khusus. Melengkapi Temuan terbaru Kvavik (Kvavik, 2005), mereka kembali menemukan bahwa tingkat penggunaan dan keterampilan tidak selalu diterjemahkan ke dalam preferensi/pilihan   penggunaan teknologi yang meningkat di kelas dan siswa  lebih suka teknologi ke tingkat yang moderat dan sebagai pelengkap dalam perkuliahan.

Dalam konteks ini, tujuan dari studi kami tentunya jelas. Yang pertama adalah untuk mendokumentasikan secara empiris tentang sejauh mana  siswa yang masuk tahun pertama pada  Universitas metropolitan Australia dapat mengakses dan menggunakan sebuah aturan teknologi dan alat berbasis teknologi. Selain lebih tertanam teknologi yang telah biasanya menjadi fokus dari jenis penyelidikan (misalnya dasar keterampilan komputer, email), studi ini juga difokuskan pada bagaimana siswa menggunakan rangkaian  teknologi yang lebih baru atau baru muncul, alat berbasis teknologi (termasuk jaringan sosial, blog, wiki, RSS, VoIP, dan Podcasting).

Tujuan kedua adalah untuk menentukan sejauh mana mahasiswa sendiri memberi laporan tentang keinginan mereka  untuk menggunakan teknologi tertentu dalam mendukung pendidikan mereka di universitas. Akhirnya, dengan memberikan asumsi yang lebih mendalam , seringnya membuat komentar-komentar tentang pengguna asli digital, siswa menggunakan teknologi tertentu dalam kehidupan sehari-hari mereka karena ingin menggunakannya dalam studi mereka, dan kami berusaha menyelidiki secara empiris tentang hal ini dengan sekelompok kecil dari teknologi yang muncul.

Karena itu, Tujuan akhir nya adalah untuk menentukan apakah banyaknya mahasiswa yang menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari ini  , karena berkaitan dengan pilihan mereka untuk menggunakannya di universitas.

Metode
Sampel

Data dikumpulkan dari tahun pertama siswa yang memulai studi mereka di Universitas Melbourne pada tahun 2006. Secara total, 2.120 siswa menyelesaikan kuesioner yang digunakan dalam studi ini yang mewakili 27,2% dari siswa tahun pertama pada Universitas tersebut. Ketika kami tertarik pada mahasiswa yang menganggap kategori ‘Pengguna Asli Digital ‘ berdasarkan usia, analisis untuk studi ini dibatasi kepada siswa yang lahir setelah 1980 (n = 1973; 25,3% dari tahun pertama siswa).

Sebagian besar siswa yang berpartisipasi dalam penelitian ini lahir antara tahun 1985 dan 1988 (terhitung 94,4% dari sampel), yang berarti bahwa mereka berusia antara 17 dan 21 ketika mereka menyelesaikan survei. Lebih banyak perempuan daripada laki-laki yang menanggapi survei (62,4% perempuan; 37,5% laki-laki), sekitar sepertiga dari sampel berasal dari latar belakang tidak berbahasa Inggris (34,9% NESB; 64,8% ESB) dan sekitar seperempat dari sampel adalah mahasiswa Internasional (23,4% internasional; 75,2% mahasiswa lokal). Data dikumpulkan dari mahasiswa di sembilan dari sepuluh fakultas Universitas mengadakan kuliah pada  tahun pertama. Satu-satunya fakultas yang tidak terwakili secara independen – Fakultas Musik –  tetap diwakili  melalui sejumlah mahasiswa dengan melakukan gabungan tingkat.

Alat Ukur – kuesioner

Sebuah kuesioner empat halaman, dikembangkan secara khusus untuk studi ini, bertanya kepada  siswa tentang akses, penggunaan, keterampilan dengan, dan preferensi/pilihan untuk sebuah sebuah teknologi yang muncul dan mapan dan alat berbasis teknologi. Kuesioner terdiri dari empat bagian utama: informasi demografis (11 soal), akses ke hardware dan Internet (16 soal), penggunaan dan keterampilan dengan alat berbasis teknologi (Komputer: 10 soal; Web: 22 soal; Telepon selular: 7 soal) dan preferensi/ pilihan  untuk penggunaan alat berbasis teknologi pada perkuliahan di Universitas (34 soal). Hanya beberapa bagian soal saja yang dilaporkan dalam makalah ini,  karena keterbatasan ruang.

Prosedur

Data yang dikumpulkan selama minggu orientasi dan pada minggu pertama di Semester 1, 2006. Staf Kunci dari fakultas di Universitas (misalnya Asisten Dekan, Informasi Teknologi; Asisten Dekan, Pengajaran  dan Pembelajaran; Manajer Fakultas) yang diundang untuk berpartisipasi dalam penelitian. Sekali dalam kesepakatan prinsip  ditegakkan, hubungan dibuat dengan staf yang memiliki tanggung jawab untuk mengajar atau administrasi di disiplin ilmu tertentu (misalnya kedokteran gigi, kimia, pendidikan, psikologi, ekonomi, hukum, dll). Waktu yang tepat untuk melakukan pengumpulan data dalam orientasi mahasiswa atau pengantar sesi   disiplin dinegosiasikan dengan masing-masing kontak.  Seorang anggota tim peneliti dan satu atau dua asisten peneliti menghadiri sesi dan pertama kali  akan memberikan penjelasan singkat kepada mahasiswa tentang proyek dan memberitahu mereka bahwa partisipasi  tersebut bersifat sukarela dan rahasia. Para mahasiswa yang ikut serta kemudian menyelesaikan survei sebelum mengembalikannya. Dua puluh  sesi survei dilakukan di Universitas.

Hasil

Akses Mahasiswa  terhadap teknologi

Mahasiswa ditanya mengenai akses mereka ke berbagai teknologi perangkat keras (komputer, ponsel, Kartu memori , kamera digital, dll) dan akses mereka ke Internet.  Mahasiswa yang mengindikasikan bahwa mereka mempunyai akses “khusus untuk saya gunakan sendiri” atau “setiap kali aku membutuhkannya, meskipun berbagi bersama orang lain “digabungkan ke dalam satu kategori ( “Dibatasi”).  Demikian pula, siswa yang menunjukkan mereka “Tidak yakin” dan “Hilang / lupa” data digabungkan ke dalam satu kategori. Hasilnya disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1: Persentase siswa yang memiliki akses tanpa batas, terbatas  atau tidak ada akses kepada perangkat keras dan akses ke Internet.   ( download)


Tabel 1 menunjukkan bahwa paling umum ukuran mahasiswa yang sedang ke yang tinggi memiliki akses tidak terbatas terhadap perangkat keras yang kami tanya. Seperti yang diharapkan, proporsi / ukuran  yang sangat tingginya dari siswa memiliki akses yang tidak terbatas terhadap komputer desktop (89,5%).

Analisis tambahan menunjukkan bahwa 70,5% siswa memiliki akses ke kedua desktop dan komputer laptop sementara hanya 0,6% dari siswa (n = 11) memiliki akses terhadap keduanya. Sementara akses tidak terbatas ke ponsel adalah hampir menyeluruh (96.4%), sebagian besar
mahasiswa mengindikasikan bahwa mereka tidak memiliki akses untuk PDA (77,3%). Yang relatif tinggi Proporsi/ ukurannya, mahasiswa yang memiliki akses tidak terbatas terhadap memori stick portabel (72,5%)dan MP3 player (68,9%); Namun, teknologi ini  tidak ada tempat di mana-mana yang dekat dengan sekitar seperlima dari tubuh mahasiswa tidak memiliki akses kepada mereka. Akhirnya, dengan hampir setengah dari sampel memiliki akses tidak terbatas terhadap sebuah konsol permainan, lebih dari sepertiga responden (36,6%) tidak memiliki akses. Sehubungan dengan akses Internet, 72,9% dari siswa dilaporkan memiliki akses tidak terbatas terhadap koneksi broadband (Tabel1). Kurangdari 14% dari siswa masih mengandalkan akses Internet dial up dan hanya 1,4 % dari siswa melaporkan tidak memiliki akses internet sama sekali.
Tidak mengherankan, Tabel 2 menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa bergantung pada komputer untuk membuat dokumen digital dan untuk tujuan studi umum. Banyak siswa yang akrab dengan membuat atau mengedit gambar digital (hanya 16,0% tidak melakukan hal ini dalam tahun lalu) dan sementara siswa tidak membuat presentasi multimedia yang sangat sering, mereka adalah tentu  akrab dengan kegiatan ini (hanya 11,1% tidak melakukan ini pada tahun lalu). Setengah siswa dalam sampel telah menggunakan komputer untuk membuat halaman web, tapi mungkin mengejutkan, setengah belum pernah melakukan ini. Sebagian besar siswa yang menggunakan komputer untuk mendengarkan musik harian atau mingguan (84,0%) dan sementara ada mahasiswa jelas ‘gamer’, 38,5% siswa tidak menggunakan konsol game dalam setahun terakhir.

Tabel 2: Persentase yang menunjukkan seberapa sering mahasiswa menggunakan teknologi berbasis komputer ( download)


Tabel 3 menunjukkan bahwa mayoritas siswa sangat bergantung pada ponsel mereka untuk memanggil dan berhubungan dengan orang, dengan 80% dari siswa berhubungan  setiap hari. Fitur yang lebih baru dari sebuah ponsel –  fitur penataannya dan mengambil dan mengirim gambar – yang jelas sering digunakan oleh bagian besar sampel, dan tidak digunakan sama sekali dengan  yang serupa tetapi bagian yang lebih kecil. Misalnya, 57,2% siswa yang menggunakan ponsel mereka untuk mengambil gambar harian atau mingguan, sementara 30,1% siswa belum pernah menggunakan telepon mereka untuk kegiatan ini. Beberapa fungsi dan fitur ponsel yang belum menikmati basis pengguna yang luas. Sebagai contoh, sebagian besar siswa belum menggunakan ponsel mereka untuk mengakses informasi berbasis web dan jasa (67,8%) atau untuk mengirim dan menerima email (75.8%).

Tabel 4: Persentase yang menunjukkan seberapa sering mahasiswa menggunakan teknologi berbasis web ( download)

Sejumlah hasil pembelajaran dapat dilihat dengan menganggap bahwa untuk masuk tahun pertama siswa berbasis web menggunakan teknologi dan peralatan (lihat Tabel 4):

Tabel 4: Persentase yang menunjukkan seberapa sering mahasiswa menggunakan teknologi berbasis web ( download)

  • Banyak siswa (63,6%) menyatakan  bahwa mereka telah mengakses sistem manajemen pembelajaran secara harian atau mingguan, tapi proporsi/ukuran yang cukup (21,8%) tidak menggunakan sistem manajemen pembelajaran pada tahun-tahun terakhir.
  • Sebagian besar mahasiswa (lebih dari 85%) telah menggunakan web untuk tujuan studi, untuk  mengumpulkan informasi umum, yang mana sebelumnya , hanya untuk mengirim dan menerima email, dan untuk instant pesan. Walaupun ada beberapa variasi dalam frekuensi yang siswa terlibat dalam kegiatan ini, sebagian besar menggunakan web untuk tujuan-tujuan secara teratur (i.e. harian atau mingguan). Olah pesan cepat jelas merupakan alternatif populer email sebagai alat komunikasi berbasis web.
  • Walaupun perangkat lunak jaringan sosial seperti My Space baru-baru ini meraih headline di media, hanya 23,8% dari mahasiswa masuk terlibat dalam jaringan sosial harian atau mingguan, sedangkan 62,9% siswa tidak pernah login.
  • Sebanyak 69,7% siswa belum berkembang dan memakai sebuah situs web pada tahun lalu.

•  Men-download file musik MP3 dan podcast, dan berbagi file-file ini jelas merupakan Aktivitas yang dinikmati secara teratur oleh sebagian besar mahasiswa (58,4% men-download MP3 harian atau mingguan). Berbagi sangat sedikit dibandingkan men-download MP3 dan ada proporsi yang signifikan dari mahasiswa yang tidak terlibat dalam kegiatan ini.

•  Sehubungan dengan teknologi komunikasi yang lebih baru seperti pesan suara melalui IP dan konferensi melalui web, sepertiga siswa telah menggunakan nya untuk batas tertentu dan dua-pertiga belum pernah menggunakannya.

•   RSS feed tampaknya berada dalam fase awal dengan tiga per empat dari mahasiswa yang memilikinya namun tidak digunakannya.

•    Sebuah budaya blog yang signifikan terlihat di kalangan mahasiswa yang masuk pada tahun pertama, telah memberikan 34,9%  yang menyatakan  bahwa mereka telah membuat blog mereka sendiri dalam tahun terakhir dan lebih banyak membaca (58,6%) dan mengomentari (43,9%) blog orang lain.

  • Sebuah proporsi/ ukuran siswa (21,2%) menunjukkan bahwa mereka memberikan kontribusi untuk blog sendiri pada setiap minggunya.

•  Wikis di sisi lain, kurang sering digunakan oleh siswa dengan 81,6% menunjukkan bahwa mereka tidak berkontribusi pada jenis alat penerbitan web sebelumnya.

Hasil yang disajikan dalam Tabel 2, 3 dan 4 menunjukkan bahwa banyak mahasiswa yang masuk tahun pertama yang disurvei dalam studi ini adalah tergolong CERDAS JARINGAN ‘dan memasukkan program tradisional dan teknologi dalam kehidupan sehari-hari mereka. Namun, ada kejelasan tentang wilayah  dimana penggunaan dan keakraban dengan perangkat berbasis teknologi jauh dari hal umum ataupun serupa di kalangan mahasiswa pada tahun pertama. Banyak alat-alat berbasis teknologi (27dari 39) tidak digunakan oleh sebagian besar mahasiswa (lebih dari 20%). Selain itu, untuk sejumlah kegiatan, proporsi siswa yang belum pernah menggunakan alat berbasis teknologi tertentu melebihi mereka yang telah (misalnya membuat website, membuat sebuah blog, web konferensi, menggunakan jaringan sosial perangkat lunak, menggunakan RSS feed, menggunakan telepon selular untuk mengakses web).

Menggunakan teknologi untuk membantu perkuliahan di universitas

Pertanyaan terakhir dalam survei yang disajikan kepada mahasiswa dengan daftar alat-alat berbasis teknologi dapat digunakan dalam studi universitas. Siswa diminta untuk menggunakan skala tingkatan (dari ‘Sangat Setuju’ untuk ‘Sangat tidak Setuju’) untuk menunjukkan sejauh mana mereka ingin menggunakan alat ini untuk membantu mereka studi universitas. Tabel 5 menyajikan data untuk seperangkat soal tes yang terbatas dan skala nilai telah diturunkan untuk kemudahan penafsiran.
Tiga kategori umum tanggapan dapat dilihat untuk pertanyaan ini. Pertama mencakup teknologi dan alat-alat yang memiliki dukungan yang sangat kuat. Artinya, sebagian besar mahasiswa (lebih dari 75%) ingin menggunakannya dan sangat sedikit mahasiswa (di bawah 5%) tidak ingin menggunakannya untuk membantu mereka studi universitas. Teknologi dan alat-alat dalam kategori termasuk menggunakan komputer untuk membuat dokumen digital dan multimedia presentasi, mengakses portal belajar, menggunakan web untuk mencari informasi, menggunakan pesan cepat dan chatting, menggunakan web untuk mengakses layanan berbasis universitas, dan menggunakan SMS. Kategori kedua mencakup alat dan teknologi yang ada cukup kuat tetapi tidak mendapat dukungan dukungan penuh (45-60% setuju, 11-17% tidak setuju) dan termasuk bisa men-download MP3 untuk membantu studi mereka (60,6%), menggunakan ponsel sebagai organisator pribadi (59,8%), menggunakan ponsel untuk mengakses informasi berbasis web atau jasa (45,5%) dan menggunakan telepon selular untuk mengirim atau menerima email (45,5%). Kategori tanggapan terakhir mencerminkan teknologi dan alat-alat yang ada bukan merupakan preferensi/ pilihan yang jelas, baik untuk atau terhadap yang mereka gunakan (meskipun mereka selalu mengikuti suatu pola dimana ‘netral’ adalah lebih besar daripada ‘setuju’ yang lebih besar daripada ‘tidak setuju’). Teknologi dan alat-alat dalam kategori ini termasuk membuat sebuah halaman web atau situs web, menggunakan PDA, jaringan sosial perangkat lunak, konferensi web, RSS feed dan blog.

Rangkaian akhir analisis menganggap tingkatan ‘sikap siswa terhadap penggunaan alat berbasis teknologi muncul dalam studi mereka, berhubungan dengan frekuensi mereka saat ini dalam menggunakan alat-alat ini. Tujuh alat yang muncul berbasis teknologi atau kegiatan yang termasuk dalam analisis ini, yaitu; menjaga/mengisi sebuah blog, download MP3, SMS di ponsel, menggunakan pesan instan, menggunakan RSS feed, berkontribusi ke wiki, dan menggunakan jaringan sosial perangkat lunak di web.

Serangkaian analisis chi-kuadrat digunakan untuk menentukan hubungan antara tingkat mana siswa menggunakan alat berbasis teknologi dan sejauh mana mereka disahkan penggunaannya dalam studi mereka di Universitas.

Enam dari tujuh tes chi-kuadrat menunjukkan pola signifikan dari suatu asosiasi yang ditunjukkan oleh soal; Menjaga/ mengisi blog (X­2(6)=78,01; p <.001)  (lihat Tabel 6).  Tabel ini menunjukkan hubungan yang kuat antara frekuensi yang digunakan blog dan keinginan untuk penggunaan di universitas.  Ini tercermin dalam  perwakilan responden dalam penggunaan harian dengan pernyataaan kategori ‘setuju’ dan dengan penggunaan perbulan yang menyatakan kategori tidak setuju (dan sebaliknya, sebuah perwakilan harian / tidak setuju dan dengan bulanan / untuk kategori setujunya).

Pola umum dari hasil ini juga terlihat untuk pesan instant , jaringan sosial, texting, RSS feed  dan men-download MP3.

Tabel 6: hitungan yang Teramati dan residu standar untuk uji chi-kuadrat dari hubungan antara penggunaan sekarang dan Keinginan untuk menggunakan soal dalam Menjaga/ mengisi sebuah blog. ( download)

* P <.05

Diskusi

Studi/ penelitian terhadap mahasiswa tahun pertama tentang akses, penggunaan dan persepsi terhadap teknologi  memiliki implikasi signifikan bagi sektor pendidikan tinggi di Australia. Pada saat tumbuh minat pada sifat  tertentu yang disebut Pengguna Asli Digital, maka menjadi suatu hal penting bagi universitas-universitas Australia untuk memastikan bahwa pengambilan keputusan tentang bagaimana meningkatkan pengalaman belajar mahasiswa yang masuk melalui penggunaan teknologi baik dengan berdasarkan bukti maupun informasi empiris.

Hasil studi ini menyoroti kurangnya kesamaan pada populasi mahasiswa yang masuk pada tahun pertama berkaitan dengan teknologi dan potensi ‘kesenjangan digital’ antara mahasiswa dalam kelompok dari tingkat satu tahun. Sementara beberapa mahasiswa telah menganut teknologi dan alat-alat dari “Generasi Internet/ Jaringan”, ini tidak berarti  pengalaman keseluruhan mahasiswa. ketika seseorang  berpindah kepada teknologi dan alat-alat yang sudah tertanam saat ini (misalnya komputer, ponsel, email), maka pola-pola akses dan penggunaan berbagai teknologi lain menunjukkankeragaman.Temuan ini berlawanan dengan asumsi kunci yang mendasari gagasan Prensky (2001a) dengan para pengguna asli digital. Mengingat hal ini, revisi kurikulum yang luas untuk mengakomodasi apa yang disebut ‘pengguna asli digital’ tampaknya tidak dibenarkan dan terlebih lagi, akan sulit untuk memulai “Menyesuaikan bahan bahasa pengguna asli digital” (Prensky, 2001a;hal 4) ketika mereka begitu jelas berbicara dengan berbagai bahasa. Seperti yang disarankan dalam pendahuluan makalah ini, tingkat keragaman teknologi diungkapkan dalam makalah ini mulai diakui oleh peneliti teknologi pendidikan. Hal ini semakin diakui bahwa sementara sebagian besar mahasiswa yang  masuk ke universitas memiliki seperangkat keterampilan inti berbasis teknologi, melebihi orang-orang yang memiliki beragam keterampilan yang ada di seluruh populasi  mahasiswa (lihat Caruso & Kvavik, 2005).

Selain itu, diakui bahwa keterampilan inti berbasis teknologi tidak perlu diterjemahkan menjadi keterampilan canggih dengan teknologi lain atau melek informasi umum. Kirkwood dan Price (2005) berpendapat bahwa “beberapa mahasiswa memiliki kompetensi tinggi di berbagai aplikasi “dan bahwa” keakraban dengan penggunaan email tidak menyiratkan keahlian dalam debat dan diskusi online yang ketat “(hal. 271). Demikian pula Lorenzo, Oblinger dan Dziubam (2006) menyatakan: ” Mahasiswa hari ini tidak hanya Generasi jaringan dengan  usia tradisional, juga tidak semua mereka  memiliki kepentingan dengan ungkapan seni, dengan teknologi apapun. pendidikan tinggi terdiri dari  beragam badan mahasiswa dengan berbagai kemampuan melek informasi. “(hal. 4). Jelas kita tidak dapat mengasumsikan bahwa menjadi anggota ‘Net Generation/ Generasi jaringan ‘ adalah sama artinya dengan mengetahui cara menggunakan alat berbasis teknologi secara strategis untuk mengoptimalkan pengalaman belajar di lingkup universitas. Mengingat keragaman ini dalam satu kelompok mahasiswa tahun pertama, tantangan bagi pendidik dan administrator universitas adalah bagaimana untuk memenuhi tingkat akses mahasiswa secara meluas,  keakraban dengan, dan preferensi/pilihan mereka  terhadap berbagai teknologi dan alat berbasis teknologi.   Studi ini memberikan bukti yang cukup jelas untuk menampik istilah “satu ukuran cocok untuk semua” pendekatan integrasi ICT dalam kurikulum universitas.   Meskipun ada beberapa jawaban yang mudah di daerah ini, namun  agak melelahkan, tapi dengan mantra yang benar,  setiap integrasi teknologi harus didorong dengan pengajaran masih berlaku. Pendidik dan pengembang pendidikan dengan keahlian mereka baik dalam teknologi yang ada dan yang baru muncul perlu lebih proaktif dalam hal ini. Terhadap latar belakang dari prinsip ini, pendidik dan administrator harus melihat kepada bukti tentang apa yang mahasiswa teknologi akses dan apa yang preferensi/pilihan mereka . Dari pada  membuat asumsi tentang apa yang  mahasiswa sukai – dan mahasiswa seperti apa – universitas dan staf  harus melihat bukti-bukti untuk menginformasikan baik  berupa kebijakan maupun berupa praktik.

Satu pertimbangan penting dalam diskusi ini adalah persamaan mahasiswa.Misalnya, menentukan daerah Podcasting . Penggunaan podcast dalam pengelolaan pendidikan dapat dengan cepat memperoleh penerimaan (misalnya Lee, Chan & McLoughlin, 2006; Maag, 2006; McLoughlin, Lee & Chan, 2006) dan sedangkan data dari studi ini menunjukkan mayoritas siswa ingin dapat men-download MP3 untuk membantu studi mereka, hampir 40% dari mahasiswa  tidak yakin atau tidak ingin menggunakan bentuk teknologi ini dalam pembelajaran mereka. Selain itu, 23% dari mahasiswa tidak pernah menggunakan web untuk men-download file MP3 dan, pada saat penelitian 14% bergantung pada akses internet dial up yang akan membuat besarnya file MP3 dan membuat lambat downloadnya. Sementara studi baru-baru ini oleh Lee, Chan dan McLoughlin (2006) mengusulkan bahwa banyak siswa lebih suka mendengarkan materi pembelajaran podcast dengan  komputer mereka, keuntungan dari MP3 adalah bahwa peserta didik dapat mengaksesnya kapan saja, di mana saja melalui MP3 player portabel. Namun, satu dari lima mahasiswa dalam penelitian yang melaporkan tidak memiliki akses untuk menampilkan MP3 player (walaupun banyak ponsel sekarang memiliki kemampuan ini). Sementara gambar-gambar ini sama sekali tidak menyarankan penundaan dalam penggunaan Podcasting, mereka tetap menyatakan kebutuhan untuk memberikan dukungan yang layak kepada siswa.

Meskipun terdapat seluruh pesan yang beragam di kalangan pelajar, ada pilihan alat dan teknologi untuk menggunakan dan mengakses batas keuniversalan dan keseragaman tersebut.      Mahasiswa sangat bergantung pada komputer untuk belajar dan untuk mendengarkan musik; hampir semua memiliki ponsel untuk menelepon dan SMS orang lain; mereka secara teratur menggunakan Internet untuk pengumpulan informasi, email dan pesan instan. Selain itu mayoritas ingin menggunakan web untuk mencari informasi untuk studi universitas mereka, untuk mengakses layanan universitas dan menggunakan portal sebagai gerbang untuk bahan pembelajaran. Temuan ini didukung oleh penelitian sebelumnya (Caruso & Kvavik, 2005; Jones, 2002) dan ketika dikombinasikan temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa saat ini bergantung pada teknologi (komputer, ponsel, dan Internet) untuk komunikasi yang cepat, dan kenyamanan akses terhadap informasi dan layanan. Meskipun kami tidak dapat berharap banyak bahwa semua mahasiswa akan mahir dengan bentuk teknologi baru, mereka mungkin  membawa harapan ke universitas umum tentang akses, kenyamanan dan keterhubungan (lihat Caruso dan Kvavik’s (2005) ECAR kerangka). Hal Ini mungkin memiliki implikasi khusus terhadap layanan administrasi yang diberikan oleh universitas (baik umum layanan mahasiswa dalam belajar dan layanan mengajar).

Selain itu, meskipun terdapat keragaman pengalaman teknologi dalam sampel ini pada mahasiswa tahun pertama , tingkat penggunaan  mereka terhadap beberapa teknologi dan alat-alat tidak menunjuk kepada  sejumlah peluang yang menjanjikan untuk mengintegrasikan teknologi inovatif ke dalam kurikulum universitas. Tidak dapat diabaikan bahwa proporsi yang substansial  dari mahasiswa yang masuk adalah untuk menggunakan dan membaca blog,  mengambil foto dengan ponsel mereka, secara teratur menggunakan perangkat lunak jaringan sosial seperti MySpace, berkomunikasi melalui konferensi web, dan berbagi semua jenis file digital dengan menggunakan ponsel mereka berdua dan web. Potensi untuk memanfaatkan teknologi tersebut dan kegiatan untuk tujuan pendidikan sedang aktif dibahas dan diungkapkan secara efektif (misalnya Downes, 2004; New Media Consortium, 2006, Instone, 2005; Barat, Wright, Gabbitas & Graham, 2006; Williams & Jacobs, 2004; Bryant, 2006).

Sekumpulan analisis akhir dalam kajian ini adalah untuk menilai pertanyaan apakah siswa yang menggunakan teknologi tertentu dalam kehidupan sehari-hari mereka juga ingin menggunakannya dalam studi mereka. Data yang dilaporkan dalam makalah ini menunjukkan bahwa untuk berbagai teknologi (blog, instant messaging, texting, jaringan sosial, RSS feed dan download MP3) jawabannya tampaknya ‘Ya’. Namun demikian, batasan dalam rancangan komponen penyelidikan ini membuat kumpulan hal yang diamati terbuka untuk berbagai penjelasan.   Sebagai contoh, sangat mungkin bahwa ‘pengadopsi awal’ yang telah sangat paham teknologi untuk keperluan non-pendidikan juga mungkin cenderung melihat teknologi ini memiliki nilai pendidikan yang lebih luas. Sebaliknya, beberapa siswa mungkin tidak ukup memiliki pengalaman dengan teknologi untuk membayangkan bagaimana itu bisa berguna diterapkan.   Juga sulit mengharapkan siswa untuk memiliki keahlian menilai tentang cara terbaik menggunakan teknologi untuk tujuan pendidikan.

Kendala yang jelas terkait dengan penafsirkan temuan ini adalah bahwa kita tidak bertanya kepada mahasiswa tentang bagaimana mereka berfikir tentang dapatkah teknologi  digunakan dalam wilayah pendidikan. Sebagai contoh, teknologi yang paling banyak diakses oleh kelompok ini adalah telepon selular (96% punya satu) dan lebih dari 90 persen menggunakannya untuk ‘berhubungan’ pada setiap minggu. Mungkin tidak mengherankan kemudian, ketika diminta untuk mengikuti teknologi yang dapat membantu mereka studi, sebagian besar siswa (84%) sepakat bahwa mereka ingin mengirim atau menerima pesan teks melalui ponsel mereka. Meskipun ada desakan kuat agar menggunakan pesan teks sebagai bagian dari studi universitas, kami tidak memeriksa dengan teliti tentang  dengan cara yang bagaimana SMS dapat digunakan dalam wilayah pendidikan, baik dengan menyarankan penggunaan untuk siswa atau meminta mereka untuk menyarankan penggunaannya. Siswa mungkin memiliki gagasan tertentu tentang bagaimana telepon selular mereka dapat digunakan untuk mendukung belajar mereka (misalnya tanda teks atau kelas dibatalkan), dan ini mungkin berbeda dari staf Universitas (misalnya teks pertanyaan pra tutor).

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan keadaan tertentu di mana siswa yang ingin ‘hidup berteknologi’  harus disesuaikan sebagai ‘teknologi pembelajaran’.  Gabungan  positif antara ‘penggunaan teknologi siswa dan preferensi/pilihan mereka untuk penggunaan teknologi di Universitas  meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab mengenai apakah keterampilan siswa sehari-hari dengan teknologi akan sesuai dengan keahlian yang terkait dengan, pembelajaran berbasis teknologi yang menguntungkan. Seperti dicatat oleh sejumlah penulis (Kirkwood &Price,2005; Katz, 2005) transfer dari teknologi sosial atau  hiburan (teknologi hidup) ke teknologi pembelajaran tidak otomatis dan tidak terjamin. Isu-isu ini menunjuk banyak masalah yang belum terselesaikan  yang menjamin keberangsungan penyelidikan lebih lanjut.

Kesimpulan dan arah masa depan

Untuk proyek penelitian berkelanjutan,  masalah mendasar dan – dan tantangannya  tetap  menjadi hal yang akrab dibicarakan. Sebagai pendidik universitas kita harus terbiasa dengan karakteritik yang  berubah dan sering beragam dari kelompok mahasiswa kita. Fakta tentang siapa mahasiswa kita harus tetap merupakan faktor penting dalam memberitahukan bagaimana kita menggunakan teknologi   alat yang kita miliki untuk desain pengalaman belajar yang kaya dan menarik bagi semua mahasiswa. Ada banyak contoh tentang bagaimana pendidik dan pengembang pendidikan melakukan hal ini dengan baik, dengan berbagai jenis teknologi selama bertahun-tahun. Penelitian yang dilaporkan dalam makalah ini akan memberikan manfaat lebih mendalam, penelitian kualitatif baik dengan perspektif siswa maupun dosen pada teknologi dari universitas mencerminkan keragaman yang lebih tinggi pada pendidikan di Australia. Sebuah penelitian yang lebih besar baru-baru ini didukung oleh Institut Pendidikan dan Pengajaran Carrick pada sekolah tinggi (lihat Kennedy, Krause, Gray, Judd, Bennett, Maton, Dalgarno & Bishop, 2006; Kennedy, Dalgarno, Gray, Judd, Waycott, Bennett, Maton, Krause, Uskup, Chang, & Churchward, 2007) akan meneruskan program penelitian ini dan akan mempertimbangkan pandangan dari staf dan pelajar dari berbagai macam universitas-universitas di Australia.

Ucapan

Penelitian ini tidak akan mungkin terlaksana tanpa kerja sama staf danmahasiswa dari The University of Melbourne. Penelitian yang dilaporkan dalam makalah ini disponsori oleh Pro Vice-Chancellor (Mengajar, Belajar dan Ekuitas) di Universitas Melbourne, Profesor Susan Elliott. Kami terutama memberikan ucapan atas diskusi kami yang hangat ini kepada Dr Barney Dalgarno dan Dr Sue Bennett, atas informasi  yang bermanfaat dalam penyusunan makalah ini.