SMKN 4 KOTA JAMBI. Assalamualaikum Pada hari selasa, 10 Maret 2009 yang lalu telah kedatangan seorang artis besar dan juga dai yang sholeh dari negeri ini. Siapa lagi kalau bukan Roker Indonesia yang terkenal dengan lagu ” Hanya satu kata… ketika ingin bicara.. tentang bara didada cukup satu kata….. dan Ada kamu …. belahan jiwaku ini saja…..dudududududu… ku tak percaya…. adududududu manakah cinta untuk kamu……… H A R I M O E K T I…. Seorang artis yang sangat fenomenal dengan glamour hidup roker akhir 80an sampai awal 90an. Beliau datang ke SMKN 4 Jambi dengan memaparkan sebuah pesan. Bukan melalui music rock nya. tapi dengan sebuah sentuhan kalbu..yang sangat bernuansa islami. Didampingi dengan istri beliau yang cantik Siti Nurjanah, beliau turut serta mengembangkan syariat islam di bumi indonesia. Jauh sekali beliau sudah melanglang buana dari pahit getirnya hidup didalam lumpur dosa sebagai penyanyi rock dan alhamdulillah… semoga tobat beliau adalah nasuha. Menjadi Dai menurut beliau bukanlah trend. Tapi ini adalah pilihan hidup dan panggilan jiwa. ingat kita semua akan mati. begitu paparan beliau yang sangat menyentuh kalbu para siswa SMKN 4 Kota Jambi. Banyak sudah telah terjadi kerusakan dimuka bumi ini, terhadap agama islam. baik dari luar maupun dari dalam islam itu sendiri… Hendaknya kita selalu waspada dan mengingat… sabda nabiyallah Muhammad SAW. Ada 2 hal yang akan menyelamatkan manusia di akhir zaman. apakah itu??? …..
tiada lain Alquran dan Hadist. Semoga kita semua masuk dalam golongan orang-orang yang beriman dan beramal sholeh. Amien. Dan buat bang Hari yang selalu di rahmati Allah, Kami keluarga besar SMKN 4 Kota Jambi mengucapkan selamat berjuang semoga Islam Jaya di Negeri ini. 10032009222

Berikut ini adalah petikan Suara Hati dari Seorang Hari Moekti.
Silakan Click :
HARI MOEKTI,
MASA LALU, JANGAN BIARKAN BERLALU
Hidup menjadi penyanyi tenar, boleh jadi impian setiap orang. Di atas panggung, sang bintang disanjung. Di luar panggung, sang bintang dipandang. Harta dan materi baginya bukanlah perkara yang merisaukan hati. Dengan suara merdunya, pundi rupiah pun segera terpenuhi. Tidak hanya materi, perhatian dari lawan jenis pun selalu tertuju padanya. Itulah sekilas gambaran masa lalu saya sebelum insyaf.
Dulu saya ngerasa, jadi artis kan kehendak Allah. Saya mikir, kalo begitu pelacur juga kehendak Allah. Berarti Allah itu jahat dong. Nggak adil. Saya pun mulai bertanya-tanya, bener nggak sih hidup kaya gini (jadi artis)?
Saya mulai menyadari kalo yang saya jalani itu menyengsarakan. Pilihan untuk meninggalkan gemerlap dunia selebritis bukan tanpa perhitungan. Saya udah siapkan diri untuk menghadapi segala risiko. Saya sadar pasti nanti nggak punya uang lagi. Pasti nggak ada kesempatan untuk bermaksiat lagi. Tapi saya bisa bercermin pada Umar bin Khaththab. Umar bisa berubah, padahal beliau punya karakter yang keras. Kalo Umar bisa, kenapa saya nggak. Dengan tekad itu saya pun berusaha untuk berubah.
Ya, kini saya bukan artis lagi. Semua embel-embel dunia keartisan sudah saya tanggalkan. Meski ada yang menyayangkan perubahan yang terjadi pada diri saya, justru saya lebih membanggakan status sekarang sebagai dai.
Memang, nggak sedikit yang meragukan komitmen saya untuk meninggalkan dunia keartisan. Pernah ada yang bilang, kalo artis itu seperti kerbau. Meski udah didandanin dengan pakaian bagus, tetep aja nanti larinya ke lumpur-lumpur juga. Tapi itu kan artis, sementara saya mantan artis.
Ketika saya berubah, orang masih memandang saya sebagai artis islami. Padahal prinsip saya, menjalani tantangan demi sebuah perubahan itu harus total. Kalo mau dakwah, dakwah beneran. Nggak pake embel-embel artis. Ini merupakan tantangan tersendiri bagi saya. Bukan sebuah beban. Sehingga saya bisa mensikapi tantangan itu secara ringan.
Karena itu, jangan biarkan masa lalu berlalu begitu saja tanpa pesan. Kesalahan yang dilakukan di masa lalu kita jadikan sebagai pendorong untuk membingkai masa depan yang lebih indah. Nggak usah terlalu bersedih, tapi kita tutupi dengan kebajikan.
Kuncinya, dengan menjadikan Ilmu, iman, dan amal sebagai bekal dalam hidup. Banyak ilmu tanpa iman, bakal salah jalan. Makanya saya yakin kalo mengaji adalah modal dari taqwa. Motto saya: Ngaji sekarang juga. Jangan tunggu esok! Kamu siap?
Wassalam